Minggu, 25 Maret 2012

surat buat dulurku.


AKeQ, ya! itulah salah satu UKM yang dimiliki oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Qomaruddin Bungah, UKM yang berfungsi sebagai wadah bagi mahasiswa-mahasisiwi untuk menyalurkan bakat, minat, dan menggali potensi dibidang seni. Didalam komunitas ini pun, juga terdapat banyak bidang-bidang yang digarap, oleh dulur-dulur AKeQ, dikarenakan banyaknya seni yang beraneka ragam, maka mungkin, perlu adanya pembagian wadah-wadah untuk seni yang bermacam-macam ini. Wadah-wadah tersebut diantaranya: al-banjari kanugrahan (sebagai wadah dibidang seni bersholawat), ASMUN atau asal muni (sebagai wadah dibidang musik), klub movie kopi susu (sebagai wadah dibidang perfilman), bengkel seni rupa (sebagai wadah dibidang seni menggambar), dan AKeQ teater (sebagai wadah dibidang teater).

Sebagai suatu komunitas yang berfungsi dibidang seni, komunitas ini tidak jarang juga berfungsi sebagai wadah bagi para mahasiswa-mahasiswi pada umumnya dan bagi dulur-dulur AKeQ sendiri khususnya, untuk mencari pacar atau bahkan mencari jodoh. Terbukti tidak sedikit para anggota yang berada didalam komunitas ini yang punya pacar atau jodoh, entah itu satu komunitas, atau diluar komunitas.

Banyak sekali manfaat punya pacar yang pacarnya satu organisasi, dan tidak sedikit juga kekuranganya, diantara manfaatnya, mungkin, kita bisa semangat dalam berorganisasi karena disana ada sang pacar, dan diantara kekuranganya, mungkin, kita tidak mau ikut salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi, karena pacarnya juga tidak mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi tersebut. Lebih lagi bila kita punya pacar diluar komunitas, manfaatnya mungkin, kita bisa sharing dengan pacar mengenai organisasi kita dan organisasi sang pacar, dan kekuranganya, mungkin, kita akan mempunyai potensi untuk berbohong, misal: organisasi kita ada kegiatan, lalu kita mengarang-ngarang ada urusan dirumah sehingga tidak bisa mengikuti, padahal kita enak-enak pacaran. Hmm…. Ini lebih bahaya daripada punya pacar satu organisasi. Tapi, lebih parah lagi bila ada anggota yang tidak punya pacar, entah itu cowok atau cewek, sampeyan perlu curiga dan bahkan, boleh menuduh, jangan-jangan mereke itu yang jomblo, bukan karena belum ada yang cocok, tapi mereka itu punya kelainan atau lebih parah lagi tidak suka lawan jenis. Ini parah, dan sampeyan perlu was-was bila sampeyan ada didekat mereka. (semoga hanya firasat) Tuing…tuing ^_^, entalah.!

~~~

Sebenarnya tak ada masalah jika kita punya pacar yang satu organisasi, diluar organisasi, atau jomblo. Satu catatan yang harus digaris bawahi dan di bolt (huruf tebal) adalah ketika kita tidak mampu untuk memilah dan memilih mana urusan pribadi dan mana masalah organisasi, inilah sumber masalahnya. Kita harus mampu melihat, dan membaca SIKONTOL PANJANG (baca; situasi, kondisi, toleransi, pandangan, dan jangkauan), harus mampu mempunyai dan mengamalkan ilmu SADAR POSISI. Memang sangat sulit untuk kita memiliki ilmu itu apalagi mengamalkanya, namun kita harus mampu memiliki dan mengamalkanya karena itu adalah kunci untuk kita menjadi seseorang yang professional dalam berbuat, kunci menggapai cita-cita diri sendiri terlebih lagi cita-cita organisasi kita.

~ ~ ~

Sengaja saya tulis kata “mungkin” didalam manfaat dan kekurangan pacaran diatas, dikarenakan saya,….. (bingung jawab) emm….. ee…. Apa ya??? Kasih tau gak ya? Dikarenakan saya,…. Tidak punya pacar. Bagi yang berminat kepada saya bisa menghubungi kepada pihak yang berwenang, yaitu: tentunya, saya sendiri.

Sebuah risalah hati

pi'un 08-03-2012

???

Pernah suatu hari, tepatnya hari rabo, saya merasakan ada suatu kejanggalan pada hari itu. Seperti biasanya, ada kegiatan proses pada suatu komunitas yang saya ikuti.


Kejanggalan ini bermula pada waktu kami (anggota komunitas) memulai kegiatan, perlu anda ketahui, bahwa pada setiap kami berproses, pasti ada satu orang yang dijadikan pemimpin untuk memimpin kegiatan proses kami tersebut.


Dan untuk proses kali ini, kami dipimpin oleh mantan ketua kami yang sekitar 1 minggu lalu di domisioner, ini adalah kejanggalan saya yang pertama.


Sebelum proses dimulai mantan ketua kami ini, menyuruh kami untuk mengumpulkan pelbagai alat musik yang kami miliki,diantaranya: gitar, jimbe, kecek-kecek, dll. Untuk kemudian dikumpulkan ditengah-tengah kami. Setelah alat-alat terkumpul semuanya, mantan ketua kami itu lantas menyuruh kami per-individu, untuk memilih dan mengambil alat musik satu-satu, terserah yang kami sukai. Butuh waktu sedikit lama bagi kami untuk memikirkan, apa yang akan terjadi setelah kami mengambilnya?, ini adalah kejanggalan yang kedua.


Karena alat-alat yang kami miliki terbatas, maka sebagian dari kami ada yang membawa, dan ada yang tidak. Selanjutnya, mantan ketua tersebut menyuruh kami, untuk bagian pembawa alat musik memainkan alatnya masing-masing, dan yang tidak membawa alat musik disuruh bernyanyi. Kejanggalan ketiga saya adalah: ada kekeliruan atau bahkan kesalahan disini, lho koq! yang bagian pembawa musik malah orang-orang yang tidak mampu memainkanya, dan justru orang-orang yang bisa main musik malah menyanyi, lebih mengganjal lagi diantara orang-orang yang disuruh menyanyi itu ada yang diam, seperti cuek-cuek saja.


Anda bisa bayangkan sendiri, betapa hancurnya permainan musik kami, yang main gitar asal ngenjreng aja, bagian jimbe asal mukul aja, tampa menyesuaikan para penyanyinya. Penyanyi-penyanyinya tidak kompak mengeluarkan lirik syair lagu. Tentunya ini adalah kejanggalan saya berikutnya.


Setelah kami memainkan musik yang super dahsyat hancurnya itu, saya tersenyum sedih, saya membatin "opo-opo wan iki,?", mungkin banyak diantara anggota kami yang merasakan, apa yang saya rasakan, terlihat dari raut wajah mereka yang kusut tampa gairah, "bayangkan, seandainya kita mentas musik, dengan pementasan yang telah kita mainkan barusan?" kata mantan ketua kami, memecah keheningan. "setiap individu pasti punya kekurangan masing-masing, dan seandainya kita mau bersama-sama, maka pasti, kita akan mampu untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang ada pada individu yang satu dan yang lain." lanjut katanya. Dan menjadi kejanggalan yang terakhir bagi saya adalah, kalimat beliau yang t'akhir, "seperti halnya organisasi / komunitas ini." Entalah!


"kejanggalan hati"

pi'un 08,03,2012

waduh,, saya khilaf

Seminggu yang lalu, ada pemilihan Ketua baru Organisasi Nyeng’iyah (bukan nama yang sebenarnya) - dihadiri oleh 26 anggota yang akan memilih salah satu dari ke-tiga calon Ketua Baru. Hasilnya, 25 suara sah, 1suara tidak sah. Jujur saja, satu orang yang golput tersebut, adalah saya sendiri! Selang tiga hari kemudian, entah ini kebodohan atau kebenaran, saya mengakui kegolputan saya kepada dua sosok yang selama ini saya hormati sebagai senior Nyeng’iyah. Walhasil, merekapun marah. “….Sikapmu sama sekali tidak mencerminan karakter anggota Nyeng’iyah….. Ketua sudah terpilih. Bagaimana sikapmu selanjutnya? Pikirkan nasib Organisasi ini kedepan….” Itulah sekuntum kalimat yang menebarkan bau-bau tak sedap.


Pedahal, orang tidak bisa menghakimi keputusan saya. Saya punya hak. Hak untuk tidak memilih siapapun. Bahkan tanpa alasanpun, saya berhak. Tapi, karena kebaikan saya, maka saya akan membeberkan alasan yang mendasari keberatan saya:


Bagaimanapun juga, setiap manusia memiliki sisi positif dan negatif. Kelebihan dan kekurangan. Ke-tiga calon adalah manusia. So, ketiganya musti memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan bagi saya, kelebihan ketiganya, tidak terletak di wilayah kepemimpinan sebuah Organisasi Nyeng’Iyah. And that’s why saya menolak ke-tiga calon Ketua Nyeng’iyah. Tapi sekarang, Ketua sudah terpilih. Otomatis saya harus menerima kenyataan.


Meskipun manusia terkadang tidak membutuhkan Organisasi, tapi, saya yakin, Organisasi membutuhkan manusia. Oleh karena itulah, demi eksistensi Organisasi Nyeng’iyah, saya memutuskan mengubah sikap terhadap ketua terpilih. Dari menolak menjadi menerima. Dari tidak suka menjadi cinta.


Dengan demikian, izinkanlah saya menghamparkan harapan-harapan saya kedepan:


Pemimpin, menurut khazanah Intelektual Islam, dibagi menjadi dua: Rais dan Imam. Rais berasal dari kata ra’sun, yang artinya kepala. Kepala memiliki ciri-ciri khusus, yaitu: suka pamer, selalu berada diatas. Karena itu, Rais sangat lemah. Adapun Imam, berasal dari kata Umi yang artinya Ibu. Ibu memiliki watak mendidik, mengasihi, menyayangi, memangku, dan memelihara. Selain itu, seorang Ibu, perasaannya sangat sensitive, sehingga setiap kali terjadi sesuatu kepada sang Anak, maka Ibu merasakan hal yang sama. Dengan bahasa lain, seorang Ibu selalu mengetahui, mengerti dan memahami watak dan keinginan sang Anak. Kalau dilihat dari sudut pandang yang lain, sebagai pemimpin, seorang Imam, bukan hanya berbicara, tetapi juga bertindak untuk memberi contoh , seperti ketika kita sholat berjama’ah. So, saya berharap ketua terpilih, menjadi pemimpin yang berjiwa Imam.


***

Sebenarnya masalah ini sudah selesai. Tidak ada lagi yang menyoal. Tapi karena pemilihan Presiden BEM akan diadakan, maka saya merasa perlu untuk menaruh harapan kepada calon kandidat yang akan terpilih, agar supaya: Menerima pluralitas; warna, golongan dan kecenderungan. Menghilangkan fanatisme terhadap warnanya, golongannya, dan dirinya sendiri (iki asline podo wae barek karepku seng ndukor). Terakhir dan tidak penting, sebetulnya, saya ingin menyambungkan paragraph terakhir ini dengan paragraph-paragraf sebelumnya, tapi saya-kan pelit. So, saya tidak menulis kesinambungannya – Terserah apa tafsirmu mengenai tulisan ini. Sekian. Terimakasih.