Minggu, 25 Maret 2012

???

Pernah suatu hari, tepatnya hari rabo, saya merasakan ada suatu kejanggalan pada hari itu. Seperti biasanya, ada kegiatan proses pada suatu komunitas yang saya ikuti.


Kejanggalan ini bermula pada waktu kami (anggota komunitas) memulai kegiatan, perlu anda ketahui, bahwa pada setiap kami berproses, pasti ada satu orang yang dijadikan pemimpin untuk memimpin kegiatan proses kami tersebut.


Dan untuk proses kali ini, kami dipimpin oleh mantan ketua kami yang sekitar 1 minggu lalu di domisioner, ini adalah kejanggalan saya yang pertama.


Sebelum proses dimulai mantan ketua kami ini, menyuruh kami untuk mengumpulkan pelbagai alat musik yang kami miliki,diantaranya: gitar, jimbe, kecek-kecek, dll. Untuk kemudian dikumpulkan ditengah-tengah kami. Setelah alat-alat terkumpul semuanya, mantan ketua kami itu lantas menyuruh kami per-individu, untuk memilih dan mengambil alat musik satu-satu, terserah yang kami sukai. Butuh waktu sedikit lama bagi kami untuk memikirkan, apa yang akan terjadi setelah kami mengambilnya?, ini adalah kejanggalan yang kedua.


Karena alat-alat yang kami miliki terbatas, maka sebagian dari kami ada yang membawa, dan ada yang tidak. Selanjutnya, mantan ketua tersebut menyuruh kami, untuk bagian pembawa alat musik memainkan alatnya masing-masing, dan yang tidak membawa alat musik disuruh bernyanyi. Kejanggalan ketiga saya adalah: ada kekeliruan atau bahkan kesalahan disini, lho koq! yang bagian pembawa musik malah orang-orang yang tidak mampu memainkanya, dan justru orang-orang yang bisa main musik malah menyanyi, lebih mengganjal lagi diantara orang-orang yang disuruh menyanyi itu ada yang diam, seperti cuek-cuek saja.


Anda bisa bayangkan sendiri, betapa hancurnya permainan musik kami, yang main gitar asal ngenjreng aja, bagian jimbe asal mukul aja, tampa menyesuaikan para penyanyinya. Penyanyi-penyanyinya tidak kompak mengeluarkan lirik syair lagu. Tentunya ini adalah kejanggalan saya berikutnya.


Setelah kami memainkan musik yang super dahsyat hancurnya itu, saya tersenyum sedih, saya membatin "opo-opo wan iki,?", mungkin banyak diantara anggota kami yang merasakan, apa yang saya rasakan, terlihat dari raut wajah mereka yang kusut tampa gairah, "bayangkan, seandainya kita mentas musik, dengan pementasan yang telah kita mainkan barusan?" kata mantan ketua kami, memecah keheningan. "setiap individu pasti punya kekurangan masing-masing, dan seandainya kita mau bersama-sama, maka pasti, kita akan mampu untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang ada pada individu yang satu dan yang lain." lanjut katanya. Dan menjadi kejanggalan yang terakhir bagi saya adalah, kalimat beliau yang t'akhir, "seperti halnya organisasi / komunitas ini." Entalah!


"kejanggalan hati"

pi'un 08,03,2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar